Kembang Turi for Pecel, Please!

December 20, 2006

Pecel ternyata punya banyak varian di pulau Jawa ini. Ada pecel Madiun, ada pecel Jogja, ada pecel Kroya. Ramuan sambel dan sayuran yg digunakan, banyak variasinya.

Dulu waktu di Ambarawa, si mbok bakul biasanya punya beberapa alternatif sayur untuk pecel. Pembeli diperkenankan bebas milih sayuran yg disuka. Kalo tidak milih, si mbok juga sudah punya pilihan default-nya. Bayem, kol, kacang panjang, tauge, dll sudah jadi sayuran yang wajib dibawa si mbok bakul.

Yang sekarang sudah agak jarang ditemui utk sayuran pecel adalah kembang turi.

Kembang turi ada dua jenis, merah & putih. Yang merah rasanya pahit, tidak bisa dimakan sebagai sayuran pecel. Hanya kembang turi yg putih yg bisa dimakan.

Sayang, dengan semakin langkanya pohon turi, semakin langka pula dijumpai mbok bakul yg bawa kembang turi tuk pecelnya.

Di jogja juga sudah langka. Mungkin harus blusukan pasar agar ketemu pedagang kembang turi. Di Jakarta? wah boro-boro… disini mah cuma bisa ngiler aja mbayangin lezatnya pecel pakai kembang turi.

Tapi… wait… menurut info seorang temen, kalo mau cari kembang turi kadang-kadang terlihat ada yg jual di pasar Mayestik, Kebayoran. Hm… perlu di cek nih.

Mungkin ada juga yg jualan kembang turi di pasar bunga RawaBelong, Jakarta barat.

Kalo yg jualan pecel with kembang turi di jakarta ini, kayaknya kok nggak ada yah? tapi setelah cari-cari-cari, akhirnya nemu info dari googling:

RM Hadir: Pecel Madiun dan Rawon, Jl. Gondangdia Lama No.34 Jakpus, ph 322075 - 3106792. (Sebelah mie Gondangdia, depan toko Monaliza)

Katanya sih masih menyediakan kembang turi buat pecelnya. Mari kita coba.

Wassalam
-S-

Pohon Langka

Dodik, teman sedari SD itu sekarang sudah jadi ahli nursery. Ketika beberapa waktu lalu ketemu, seperti biasa saya minta advise soal tanaman. Memang agak sulit ‘berkebun’ di rumah, karena pekarangan kami sangat kecil mungil. Pilihan tanaman yg bisa ditanam pun terbatas. Yg jelas pohon besar tidak muat di pekarangan kami.

Dodik cerita, sudah beberapa waktu ini dia mencoba menanam bibit tanaman yg sudah tergolong ‘langka’. Selain itu dia juga mulai mencoba menanam & menjual bibit yg lagi nge-trend seperti adenium. Biasanya tanaman yg lagi nge-trend sekarang ini harganya jutaan, tapi setelah beberapa waktu harganya turun.

Saya tidak tertarik dengan tanaman ‘pop’ seperti adenium. Lebih tertarik soal tanaman langka. Dodik kemudian memberi beberapa alternatif. Dari sekian banyak koleksinya, yang paling disarankan adalah tanaman Wijaya Kusuma.

“Harga bibitnya lumayan mahal loh, kalo beli di Trubus bisa tiga ratus rebu!” kata Dodik. Melihat sekilas, tak ada yg menarik dari bentuk pohonnya. “Apa istimewanya?” gumamku dalam hati.

Seolah bisa membaca pikiranku, Dodik pun dengan semangat salesmannya menjelaskan, bahwa pohon wijaya kusuma biasanya amat-sangat-jarang sekali berbunga. Berbunga pun cuma sesekali, malam hari lagi. Tapi tak sembarang orang yg menanam bisa melihat bunga wijaya kusuma. “Ada syaratnya” katanya.

“Bunga wijaya kusuma, hanya bisa berbunga jika yg menanam adalah keluarga yg harmonis, keluarga yg tenang, keluarga sakinah.” kata Dodik.

Ah… masa sih… terus terang jadi tambah penasaran. Nama Wijaya Kusuma sudah tenar, beken, apalagi di kalangan orang Jawa. Tapi seperti apa bentuknya ya, bunga wijaya kusuma?

Kalau memang benar apa yg dikatakan Dodik, mungkin tidak sulit menarik benang merah secara logika. Keluarga harmonis tentu punya aura positif yg bisa mempengaruhi pertumbuhan mahluk hidup di sekitar rumah, termasuk pepohonan.

Sebaliknya keluarga yg setiap hari bertengkar, tentu sang pohon pun ogah tinggal di dekat situ. Barangkali kalo pohon bisa ngomong … “Aih… nih orang berantem terus, kapan gue disiramin?”

Keluarga yg amburadul mungkin tidak punya waktu ngurusin keluarga, apalagi ngurusin tanaman di rumah, jadi gak bakalan deh wijaya kusuma mau berbunga disitu.

Hm… boleh percaya boleh tidak. Yang jelas di rumah kini sudah ada tanaman ini. Dodik memberikannya, gratis. Semoga bisa berbunga di halaman kami.

Wassalam,
-S-

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design