Kenangan Reuni
Lebaran tahun 2006, ada yg lain di rumah. Ternyata di kampung ada anak-anak muda yg suka main keroncong. Yah sudah kita tanggap aja di rumah, katanya mereka mau beli Bas kebo yg mahal, maklum yg lama sudah rusak jadi mereka ‘ngamen’ kesana-sini buat beli alat musik yg baru.
Lebaran tiba, artinya panen bagi mereka. Orang-orang dari Jakarta datang, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?
Tapi bukan itu yg ingin diceritakan. Soalnya waktu mereka main keroncong di teras rumah, enam orang teman satu SD (sekolah dasar) berkenan hadir menemani saat-saat menyenangkan yg takkan terlupakan.
Ada yg terakhir ketemu waktu kelas 4 SD… mmm… jadi sudah berapa tahun? sudah 22 tahun! Padahal kita tetanggaan satu kampung, kenapa tidak pernah ketemu?
Ya sudahlah … seperti biasa kalau lama tak pernah ketemu, apa lagi kegiatannya kalau bukan cerita peristiwa-peristiwa konyol, lucu, nakal, aneh bin ajaib yg pernah kita lakukan suatu saat dahulu.
Temen SD yg dulu nakal-nakal, sekarang sudah jadi bapak-bapak yang punya anak, dan anak-anak mereka sama nakalnya dengan si bapak. Hahaha… jarum jam serasa berputar. Satu demi satu lembaran album kenangan dibuka bersama-sama, kenangan manis masa kecil serasa didepan mata.
Si Wiwin yg dulu manis (tapi aku ndak berani naksir karena badannya lebih tinggi) malam itu banyak dibahas. Entah dimana dia sekarang. Apakah masih manis seperti dulu? Si Iwan yg tinggal dekat kali, sudah meninggal bunuh diri minum baygon karena malu ketahuan mencuri tape recorder tetangganya. Si Suryanto yg bapaknya dulu dekat dengan presiden suharto, sudah meninggal karena sakit tipus.
Si ‘S’ yg dulu sering berantem, ternyata punya pengalaman kerja jadi intel, malam itu banyak cerita ttg pejabat-pejabat RI jaman orde baru dan teknik menyadap telpon mereka. Karena salah perhitungan, akhirnya S ‘terpaksa’ (dipaksa?) melanglang buana sebelum akhirnya kembali ke kampung menjadi pedagang bubur ayam.
ah… nasib orang beda-beda.
Ada satu yg ajaib dan bikin melongo, yaitu ketika mereka bercerita suatu peristiwa yg dialami bersama, yg menurut mereka amat sangat berkesan, anehnya aku tidak ingat sama sekali !!!
Ah… begitu mudahkah kenangan manis terlupakan? Apa ini pengaruh kebanyakan minum kopi, atau memang diri ini sudah mulai uzur? tak sadar ku mengeluh.
Setelah puas bercerita, tiba saat berpamitan. Selamat jalan sahabat-sahabat ku. Kau mengisi hari-hariku dahulu. Memori-ku tak memuat seluruh senyummu waktu itu. Hanya satu-dua adegan terekam dalam ingatanku.
Mungkin dulu setiap hari kita bertengkar. Mungkin ada kelakuanku yg tidak baik. Aku sudah lupa, tapi kau tak pernah lupa. Berulangkali kuyakinkan bahwa kau sudah memaafkan.
Sekarang kita bertemu, bercerita tentang masa lalu.
Dulu waktu kita masih kecil, pernahkah kita berkumpul dan bercerita tentang masa depan?
Masa lalu sudah berlalu, Masa depan … kita tak tahu apa yg akan terjadi. Yang kita tahu hanya hari ini, detik ini.
