Enak vs Tidak Enak [2]

April 5, 2006

Soal makanan lezat, ada beragam cara mendefinisikan
apa dan bagaimana suatu masakan disebut ‘enak’.
Di dunia yang dihuni aneka ragam bangsa ini, ada peribahasa:
“Orang Jepang makan dengan matanya,
Orang Prancis makan dengan hidungnya,
Orang China makan dengan lidahnya.”

Di Jepang, orang-orang tidak memasak dengan
aneka macam bumbu, karena di Jepang memang
tidak memiliki kekayaan bumbu dan rempah-rempah.
Masakan Jepang banyak yg dimasak tanpa bumbu,
atau bahkan tidak dimasak sama sekali
(misalnya sashimi = ikan mentah).

Lalu, dimana enaknya masakan seperti ini?
Enak-tidak enak, tergantung cara penyajiannya.
Masakan yg ‘enak’ menurut orang jepang adalah
yang sedap dipandang. Dalam hal sashimi, sayatan ikan
harus rapi, berjajar, sebaris sehingga enak dilihat.
Itulah sebabnya orang jepang disebut ‘makan dengan
menggunakan matanya’.

Orang Prancis banyak yg hidungnya mancung,
hal ini dikarenakan mereka makan dengan hidungnya.
Masakan yg enak menurut orang Prancis adalah yg baunya enak.
Itulah sebabnya negri Prancis terkenal dengan industri parfum,
karena yg namanya bau wangi & harum bukan cuma untuk tubuh,
tapi disana diasosiasikan juga dengan makanan dan minuman.

Orang China, jangan ditanya.
Diseluruh dunia, dimana-mana ada restoran China.
Semua yg berkaki empat (termasuk tikus, anjing, kucing)
oleh orang China bisa disulap jadi makanan lezat karena
mereka memang memiliki citarasa tinggi soal makanan.
Barangkali yg berkaki empat tapi tidak bisa dimasak
orang China cuma meja saja.

Bagaimana orang Indonesia?
Sepertinya belum masuk hitungan karena orang Indonesia
cara makannya masih ngawur. Ada yg makan sambil jongkok,
ada yg makan didekat tempat sampah, ada yg makan 3 hari sekali,
disisi lain ada koruptor yg suka makan aspal, jembatan, hutan, dll.
Orang China makan babi, Orang India makan bersama orang buta,
koruptor Indonesia makan dengan membabi-buta.

Urutan kekayaan orang Indonesia bisa dilihat dari cara makannya.

  1. Hari ini apa makan?
  2. Hari ini kapan makannya?
  3. Hari ini makan apa?
  4. Hari ini makan dimana?
  5. Hari ini makan dengan siapa?
  6. Hari ini siapa yg kita makan?

Sepertinya kebanyakan orang Indonesia masih berada dilevel 1.
Oleh karena itu saya usulkan peribahasa diatas ditambah menjadi:

“Orang Jepang makan dengan matanya,
Orang Prancis makan dengan hidungnya,
Orang China makan dengan lidahnya,
Orang Indonesia makan dengan perutnya”

Alasannya, karena orang Indonesia sejatinya hanya makan
untuk kenyang saja. Asal ada sumber karbohidrat yg masuk,
bagi mereka sudah cukup. Lauknya bisa apa saja,
nasi + sambel juga sudah ok.
Tidak heran kalau bangsa kita dikenal memiliki
banyak sumber karbohidrat: ada yg makan nasi, sagu,
jagung, ketela, dll.

Untung tidak ada yg makanan pokoknya kuaci,
kan capek kupasin kuaci satu-satu!

Kuaciann … deh lo!

Tahu Campur Lamongan vs Tahu Campur Semarangan

Di Jawa Tengah ada juga makanan namanya tahu campur.
Orang Magelang menyebut makanan ini ‘tahu kupat’.
Orang Semarang bilang ‘tahu gimbal’.
Sama-sama masakan tahu berkuah, tapi rasanya
jauh berbeda dengan tahu campur model lamongan.

Perbedaan utama tahu campur Jawa ada pada rasa kuahnya.
Kuah tahu campur merupakan campuran dari kecap, bawang merah,
dan ingredient lain yg tidak diketahui. Kalo anda pernah makan
tahu gejrot Cirebon … kira-kira seperti itulah rasa kuahnya.

Kuahnya warnanya kehitaman (warna kecap), rasanya manis,
kandungan bawang merahnya menimbulkan rasa semriwing
ketika kuah ini diseruput pelan-pelan.

Sayurnya biasanya berupa rajangan kol, ditaburi bawang goreng
dan seledri. Kalau versi Semarang biasa ditambahi gimbal (= bakwan goreng).
Kalau di Magelang versi kota dingin jadi perlu karbohidrat yg banyak.
jadilah tahu campurnya ditambah ketupat (=’tahu kupat’).

Kalo mau beli tahu tjampur versi jawa ini…
tempat yg paling enak …so pasti..
di warung yg mangkal dekat rumah saya di Ambarawa.
Mbok bakulnya sudah jualan dua generasi, sayang generasi ketiga
sepertinya tidak berminat meneruskan usaha
leluhur mereka membuat tahu campur.

Di warung ini rasa tahunya enak & khas. Tahu digoreng setengah matang,
kuahnya mantap disiramkan ke seluruh sayuran.
Rasanya nikmat sekali, apalagi disantap saat masih panas,
makannya di kota yg dingin Ambarawa …. uenak tenaan!
Di Jakarta, susah sekali menemukan tahu campur jenis ini.
Dulu ketika hunting tahu campur jawa saya sering kecele
karena yg sering mangkal di jakarta biasanya tahu campur Lamongan.

Kalo tahu campur versi jateng ini jarang kelihatan di jakarta.
(kalo ada yg Tau tempat Tahu campur jawa tlg kasih tahu).

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design