AaGym: Kalau mau sukses, harus inisiatif & proaktif!

April 18, 2006

Senin, 17 April 2006

Janjian dgn Eko di DT Cipaku mau ketemu Aagym jam 17:30. Masuk sebentar ke ruang sekpim, ee.. ketemu sohib lama ustad Solikin, spesialis pengusir jin yg sekarang sudah jadi pengusaha. Langsung ke Hendra nanyain aagym apa bisa ditemui sebentar. Setelah diijinkan, kita bertiga bincang sejenak soal kemungkinan kerjasama video on demand utk komunitas di luar negri. Alhamdulillah Aa memberikan respon yang positif. Sayangnya rencana ke Bandung musti ditunda dulu karena aagym dan rombongan (termasuk kang Dudung bos MQTV) mau berangkat umroh tgl 21 April nanti. Sebelum adzan berkumandang Aa mengajak sholat magrib di bawah. Usai sholat magrib seperti biasa Aa Gym memberikan tausyiah singkat. Intinya, kalau ingin sukses, baik sukses dunia maupun sukses akhirat harus punya sikap inisiatif dan proaktif.

Sekitar jam 18:45 siap-siap ke AlAzhar ndengerin pengajian. Pengajian baru berlangsung sebentar, hujan turun dengan derasnya. Jamaah di masjid merapat ke dalam, pintu dan jendela ditutup agar tempias air hujan tidak masuk kedalam. Hujan bertambah lebat, jamaah terus berdatangan tak peduli hujan yang mengguyur. Tema pengajian kali ini ttg Asmaul Husna ‘Al- Baqi’, yang maha kekal. Jamaah tampak menyimak dengan penuh perhatian.
Menjelang jam 20:00, hujan perlahan mulai reda.
Pengajian sebenarnya belum selesai, berhubung satu dan lain hal akhirnya diputuskan untuk pulang duluan.

Malam yg dingin, habis hujan, apalagi yg terpikir kalau bukan makan yg anget-anget. Pilihan jatuh ke bakso kumis di blok S. Sudah lama tidak kesini, ternyata sudah berubah menjadi kawasan wisata malam pujasera yg ditata rapi oleh pemkot Jakarta. Bakso Kumis seperti biasa banyak yg antre. Meja panjangnya sudah diubah jadi model meja di pujasera. Yg jelas jadi tambah bersih. Mau makan, lagi-lagi ketemu sohib lama, mas Reza bos bengkel Hang Tuah warung buncit. Jadilah ngobrol sebentar dengan mas Reza.

Perut kenyang makan bakso tenis dua biji, langsung menuju rumah. Eko turun di jalan dekat terminal Pasar Minggu, mau nerusin perjalanan ke Depok. See you Eko, semoga berhasil bisnisnya!

Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri [1]

April 12, 2006

Anda pasti mengira foto-foto ini bukan di Indonesia.
Saking bagusnya arsitektur masjid ini, siapapun yg melihat
untuk pertama kali pasti akan tercengang, tidak mengira
bangunan masjid dengan kubah berlapis emas semegah ini
bisa berdiri di Maruyung - Sawangan Depok.

Bukan masjidnya saja yg megah, taman-taman disekitarnya
yang menempati areal 10 ha ini tertata asri dengan
tanaman berkualitas, bukan sekedar pohon perdu biasa.

Ini foto-foto di kawasan Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri
pada saat peresmian gedung serba guna yang diresmikan oleh
Ibunda Hajjah Dian Djuriah Maimun Al-Rasyid pada tanggal
1 April 2006 bertepatan dengan tanggal 2 Rabiul Awal 1427 H.

dian1

dian2

dian3

dian4

Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri [2]

Foto-foto di kawasan Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri, Maruyung - Sawangan, Depok

dian5

dian6

dian7

dian12

Aa Gym pun terpesona!

Enak vs Tidak Enak [2]

April 5, 2006

Soal makanan lezat, ada beragam cara mendefinisikan
apa dan bagaimana suatu masakan disebut ‘enak’.
Di dunia yang dihuni aneka ragam bangsa ini, ada peribahasa:
“Orang Jepang makan dengan matanya,
Orang Prancis makan dengan hidungnya,
Orang China makan dengan lidahnya.”

Di Jepang, orang-orang tidak memasak dengan
aneka macam bumbu, karena di Jepang memang
tidak memiliki kekayaan bumbu dan rempah-rempah.
Masakan Jepang banyak yg dimasak tanpa bumbu,
atau bahkan tidak dimasak sama sekali
(misalnya sashimi = ikan mentah).

Lalu, dimana enaknya masakan seperti ini?
Enak-tidak enak, tergantung cara penyajiannya.
Masakan yg ‘enak’ menurut orang jepang adalah
yang sedap dipandang. Dalam hal sashimi, sayatan ikan
harus rapi, berjajar, sebaris sehingga enak dilihat.
Itulah sebabnya orang jepang disebut ‘makan dengan
menggunakan matanya’.

Orang Prancis banyak yg hidungnya mancung,
hal ini dikarenakan mereka makan dengan hidungnya.
Masakan yg enak menurut orang Prancis adalah yg baunya enak.
Itulah sebabnya negri Prancis terkenal dengan industri parfum,
karena yg namanya bau wangi & harum bukan cuma untuk tubuh,
tapi disana diasosiasikan juga dengan makanan dan minuman.

Orang China, jangan ditanya.
Diseluruh dunia, dimana-mana ada restoran China.
Semua yg berkaki empat (termasuk tikus, anjing, kucing)
oleh orang China bisa disulap jadi makanan lezat karena
mereka memang memiliki citarasa tinggi soal makanan.
Barangkali yg berkaki empat tapi tidak bisa dimasak
orang China cuma meja saja.

Bagaimana orang Indonesia?
Sepertinya belum masuk hitungan karena orang Indonesia
cara makannya masih ngawur. Ada yg makan sambil jongkok,
ada yg makan didekat tempat sampah, ada yg makan 3 hari sekali,
disisi lain ada koruptor yg suka makan aspal, jembatan, hutan, dll.
Orang China makan babi, Orang India makan bersama orang buta,
koruptor Indonesia makan dengan membabi-buta.

Urutan kekayaan orang Indonesia bisa dilihat dari cara makannya.

  1. Hari ini apa makan?
  2. Hari ini kapan makannya?
  3. Hari ini makan apa?
  4. Hari ini makan dimana?
  5. Hari ini makan dengan siapa?
  6. Hari ini siapa yg kita makan?

Sepertinya kebanyakan orang Indonesia masih berada dilevel 1.
Oleh karena itu saya usulkan peribahasa diatas ditambah menjadi:

“Orang Jepang makan dengan matanya,
Orang Prancis makan dengan hidungnya,
Orang China makan dengan lidahnya,
Orang Indonesia makan dengan perutnya”

Alasannya, karena orang Indonesia sejatinya hanya makan
untuk kenyang saja. Asal ada sumber karbohidrat yg masuk,
bagi mereka sudah cukup. Lauknya bisa apa saja,
nasi + sambel juga sudah ok.
Tidak heran kalau bangsa kita dikenal memiliki
banyak sumber karbohidrat: ada yg makan nasi, sagu,
jagung, ketela, dll.

Untung tidak ada yg makanan pokoknya kuaci,
kan capek kupasin kuaci satu-satu!

Kuaciann … deh lo!

Tahu Campur Lamongan vs Tahu Campur Semarangan

Di Jawa Tengah ada juga makanan namanya tahu campur.
Orang Magelang menyebut makanan ini ‘tahu kupat’.
Orang Semarang bilang ‘tahu gimbal’.
Sama-sama masakan tahu berkuah, tapi rasanya
jauh berbeda dengan tahu campur model lamongan.

Perbedaan utama tahu campur Jawa ada pada rasa kuahnya.
Kuah tahu campur merupakan campuran dari kecap, bawang merah,
dan ingredient lain yg tidak diketahui. Kalo anda pernah makan
tahu gejrot Cirebon … kira-kira seperti itulah rasa kuahnya.

Kuahnya warnanya kehitaman (warna kecap), rasanya manis,
kandungan bawang merahnya menimbulkan rasa semriwing
ketika kuah ini diseruput pelan-pelan.

Sayurnya biasanya berupa rajangan kol, ditaburi bawang goreng
dan seledri. Kalau versi Semarang biasa ditambahi gimbal (= bakwan goreng).
Kalau di Magelang versi kota dingin jadi perlu karbohidrat yg banyak.
jadilah tahu campurnya ditambah ketupat (=’tahu kupat’).

Kalo mau beli tahu tjampur versi jawa ini…
tempat yg paling enak …so pasti..
di warung yg mangkal dekat rumah saya di Ambarawa.
Mbok bakulnya sudah jualan dua generasi, sayang generasi ketiga
sepertinya tidak berminat meneruskan usaha
leluhur mereka membuat tahu campur.

Di warung ini rasa tahunya enak & khas. Tahu digoreng setengah matang,
kuahnya mantap disiramkan ke seluruh sayuran.
Rasanya nikmat sekali, apalagi disantap saat masih panas,
makannya di kota yg dingin Ambarawa …. uenak tenaan!
Di Jakarta, susah sekali menemukan tahu campur jenis ini.
Dulu ketika hunting tahu campur jawa saya sering kecele
karena yg sering mangkal di jakarta biasanya tahu campur Lamongan.

Kalo tahu campur versi jateng ini jarang kelihatan di jakarta.
(kalo ada yg Tau tempat Tahu campur jawa tlg kasih tahu).

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design