Tanggal 31 Januari pagi jam 8:00, tiba di Nagoya airport. Brrr.. Dingin!
(Mengapa daku harus pergi ke Jepang saat musim dingin seperti sekarang ini?) Suhu 8 derajat Celcius ini membuat badan menggigil. Pergi ke Jepang pas musim dingin berarti ada pengeluaran ekstra buat beli jaket, sarung tangan, baju anoman, sweater, dll, dan ini nggak diganti perusahaan alias ditanggung sendiri
Setelah tanya sana-sini akhirnya sampai juga di tempat naik bus jurusan Hamamatsu. Naik bis jam 9:00, dua jam kemudian tiba di Hamamatsu station. Oozumi-san jemput di pemberhentian bis, langsung diantar ke Sago Terminal Hotel. Di hotel ini tidak langsung check-in, cuma nitip koper dulu. Setelah itu kita balik lagi ke eki, naik kereta Entetsu-sen menuju ke kantor Yamaha pusat. Disini disambut Kotake-san (manajer PA-DMI), langsung aisatsu ke mantan bos, Ichikawa-san. baru sedikit basa-basi, bel tanda istirahat siang berbunyi.
Setelah istirahat, kita diantar puter-puter melihat showroom Yamaha. Petugas dengan bersemangat menceritakan sejarah berdirinya perusahaan ini. Yamaha adalah nama orang pertama yg bisa membuat organ di Jepang. Sejarah bermula ketika Torakusu Yamaha dengan susah payah akhirnya bisa membuat organ pertama itu tahun 1887. Menjelang perang dunia kedua, Yamaha mendapat order membuat propeler untuk pesawat tempur Jepang. Itulah sebabnya pabrik Yamaha turut menjadi sasaran pemboman pesawat Amerika sehingga pabrik rata dengan tanah pada tahun 1945. Setelah perang selesai, pabrik Yamaha mulai kembali aktifitasnya dengan memproduksi gitar. Teknologi permesinan yg dikuasai pada saat PD II dimanfaatkan untuk ekspansi mebuat pabrik sepeda motor Yamaha. Saat itu yg namanya sepeda motor pasti warnanya hitam. Kemunculan sepeda motor yamaha yg berwarna merah awalnya direspon dingin oleh pasar, karena dianggap ‘barang aneh’. baru setelah ada balapan motor dan Yamaha bisa menang, produk sepeda motor yamaha mulai dilirik. Dikota Hamamatsu ini pula orang-orang seperti Honda (tukang reparasi sepeda) dan juga Suzuki-san, mulai membangun perakitan sepeda motor. Jadilah Hamamatsu terkenal sebagai kota produsen sepeda motor.
Propeler dan AkaTombo, sepeda motor Yamaha generasi pertama
Puas mendapat penjelasan sejarah Yamaha di showroom, kita diantar putar-putar ke pabrik Grand Piano. Di pabrik Gran piano ini pekerjanya sedikit, sebulan produksinya cuma 60 unit. Yang paling mahal tentu Grand Piano, ini tuts-nya terbuat dari gading gajah. Piano jenis ini tidak bisa diekspor ke negara-negara barat karena ada perjanjian internasional yg membatasi perdagangan produk yg terbuat dari gading gajah.
Tuts-nya dari gading, harganya 11.550.000 yen (sekitar 900 juta rupiah)
Setelah puter-puter pabrik, kembali ke office utk mengikuti Management Review. Sebenarnya ini acara utama kunjungan kali ini, tapi yah .. yg penting sudah selamat menjalani meeting ini
Selesai laporan Management Review, kembali ke hotel. Jjam 19:00 dijemput Kotake-san dan istri, diajak dinner bareng ke restoran. menu makan malam kali ini - Spagheti sea food. (hihi, jauh-jauh ke jepang makan spagheti?).