Jakarta - Jogja - Jepara (part 1)

January 11, 2006

Sudah sekian lama, akhirnya kesampaian juga jalan-jalan ke Jogja. Hampir 2 jam naik bis pariwisata JogloSemar, Jogja menyambutku dengan terik mataharinya jam 13:00. Ternyata Jogja sudah tidak adem lagi. Tiga puluh menit menunggu, Uliek datang dengan mobil Suzuki Carry pick-up. Kapan yaaa terakhir ketemu dia… mungkin sekitar tahun 2001 waktu honeymooon ke Bali. Hmm sudah empat tahun tidak ketemu. “Liek, Aku belum sholat” … langsung Uliek anter aku ke masjid Asy-Syuhada.

Jam 14:00, janjian ketemu Delthy di Matahari mall, Malioboro. Lagi ada pameran properti di lantai dasar, perusahaan TAC (Titian Adhi Citra) milik Delthy juga ikut pameran. Setelah ngobrol sebentar, kita bertiga (eh berlima dgn anak & istri Delthy) dijamu makan ala buffet di resto hotel Ibis. Puas makan, lanjut shopping di mall. Istri Delthy cari baju buat anaknya di Osh-Kosh, aku nyari kado buat besok. Tak lupa cari kaos dagadu lengan panjang di lantai dasar. Mereka bilang ini kios Posyandu (Pos Layanan Dagadu).

Puas belanja, balik lagi ke arena pameran. Lho, mbak SPGnya kok ndak ada? Shift pertama sudah selesai, SPG pertama udah pulang, sementara SPG kedua yg harusnya sudah datang, belum nampak batang hidungnya. Yo wis kita bertiga jadi SPM.

SingTuku1

    Sing tuku ora teka-teka, sing teka ora tuku-tuku

Berhubung sudah sore, kita pamitan ama Delthy menuju target sasaran berikut: Mirota Batik. Berdua dengan Uliek kita ubek-ubek toko, nyari batik buat anak-anak, daster, kain sarimbit dll… wah banyak juga belanjaannya. Keluar Mirota Batik, hari sudah gelap, pertanda sudah malam. “Ndhu… aku antar pulang ke Ambarawa, tapi aku beli obat dulu buat anakku, tadi malam dia sakit panas.” kata Uliek sambil pencet-pencet HP kirim sms ke dokter Yoshida nanyain obat panas. Sampai di rumah Uliek, nggak ada pembantu, istrinya belum mandi. Ya sudah gini saja: istriku mandi, kamu Ndhu tolong momong anakku, aku yg nyetir. Ayo kita keluar sebentar. Yah… jadilah aku pengasuh dadakan nggendong anaknya Uliek puter-puter cari obat. “Jangan ngompol ya dik, kamu nggak pakai pampers.” kataku harap-harap cemas. Hari Minggu, kebanyakan apotik di Jogja tutup. Lama nian waktu kita habiskan nyari obat Paracetamol sirup. Muter-muter… eh ketemunya malah di rumah sakit dekat Gembiraloka, untung obatnya nggak dikasih ke gajah.

Balik lagi kerumah Uliek, pamitan sebentar, langsung meluncur ke Ambarawa 20:30. Wah… nyampe jam berapa nih di rumah? Jalan lancar banget, jam 21:30 ternyata sudah sampai di Magelang. Eh… masih ada toko yg buka, yo wis kita mampir beli oleh-oleh apalagi kalo bukan “Getuk Trio” asli Magelang. Tapi ada yg aneh, sekarang tanggal 8 Januari 2006, Getuknya sudah ditulisi “Dibuat Hari Ini tanggal 9″… wah ngapusi iki. Kalo dia sabar, 3 jam lagi sudah tanggal 9, kenapa harus buru-buru mengkorupsi waktu seperti itu? Tipikal orang Indonesia hahaha.. Hei lihat! Ada juga dijual wader goreng! ini gorengan khas Muncul - Banyubiru, sekalian beli ah buat camilan di rumah. Uliek, nih kamu bawa juga getuk ama wadernya. Ho-oh kata dia sambil nyeruput Krating Daeng. Biar kuat & nggak ngantuk katanya.

Jam 22:15 tiba di Ambarawa, istirahat sebentar. “Uliek, jangan pulang nginep disini aja, jalanan gelap lagian kamu udah ngantuk nanti ada apa-apa.” Uliek pun nginep, paginya jam 06:00 balik lagi ke Jogja.

Trims Delthy, Uliek… kapan-kapan aku balik lagi ke kotamu.

Jakarta - Jogja - Jepara (part 2)

Senin pagi, 9 Januari 2006. Jam 08:00 mas Edi sudah siap ngantar ke Jepara. Mampir dulu ke rumah Hastining di Semarang, Puri Ayodya, Tembalang dekat Undip. Rumahnya di hoek, besar sekali. Sang Suami, Widi menyambut kami dengan ramah. Belum lama kami duduk, Ludi kecil menghampiri. “Bapak, katanya kita mau sekolah, ayo berangkat”. Ludi pinter sudah bisa pakai kaos kaki sendiri. Wah kedatanganku mengganggu skedul, Ludi jadi telat sekolahnya. Hastining agak gemukan, masih cuti setelah melahirkan anak keduanya tanggal 21 Desember 2005 yg lalu. Tapi bayinya mana? mungkin lagi bobo kita malah nggak sempat dikasih liat. Setelah ngobrol sana-sini, nyerahin kado, akhirnya kita pamit nerusin perjalanan.

Hastining Family

Semarang Kaline Banjir.

Kaligawe banjir mas. Banjir lagi, banjir lagi. Mobil mas Edi harus jalan pelan-pelan menghindari kubangan air. Banjir & Macet. Harus sabar. Kesabaran itu akhirnya membawa kami ke Jepara, ke dukuh Tahunan.

Jepara Sepi.

BBM naik, ekonomi lesu. Kayu jati susah didapat, pengrajin menjerit. Oo malang nian nasibmu UKM ukiran Jepara. Sepanjang jalan yg terlihat hanya toko-toko kosong pembeli. satu-dua kontainer nampak sedang proses stuffing. Ah … ternyata ekspor masih jalan. Kata pak Ricky orang Nippon Express yg dulu sempat di Semarang, jaman jaya dulu Jepara bisa mengekspor seribu kontainer per-bulan lewat pelabuhan Tanjung Mas. sekarang? wah… jaman susah mas. Sebagian karena salah mereka sendiri yg tidak bisa menjaga mutu barang setelah mendapat kepercayaan importir. Produksi sedikit, kualitas bagus. Tapi begitu dikasih order massal, mereka kewalahan. Modal tak ada, kualitas tak bisa dijaga.

Perburuan dilanjutnya mencari kaligrafi Islami. Pilih-pilih, akhirnya kita beli enam biji yg belum di-finishing. Barang dititip ke mas Munoko, untuk dilanjutkan prosesnya. Nanti kalo hasilnya oke, kita kasih order yg lebih banyak.

Semua UKM di Jepara punya lagu yg sama: “Rindu Order”. Kami datang karena mendengar rintihan mereka, walaupun sedikit yang penting kami peduli. Siapa lagi yg bisa mengangkat kalau bukan kita sendiri. Sudah cukup lama perajin diapusi pengusaha luar negri, malahan orang-orang bule itu sekarang banyak yg kawin ama perempuan lokal, terus bikin usaha di Jepara. Yah… beginilah potret bangsaku, susah banget kalo mau diajak maju. Mudah-mudahan orderku yg cuma sedikit, bisa memberi secercah harapan buat mereka.

Jam 18:30 kami pulang, entah kenapa deretan toko-toko yg kosong serta bengkel perajin yg sepi itu lekat di pikiran. Perjalanan diteruskan, sepanjang jalan orang takbiran, besok Idul Adha. Di Demak jalan masuk kota ditutup buat Dugderan. Di kota ini Bendera PDI dimana-mana, sedang HUT rupanya. Demak kota basis PDIP, bupati perempuannya terkenal mumpuni membangun kota ini. “Harusnya bupati perempuan lebih banyak, mereka terbukti pinter mengelola negri ini” begitu kata hastining siang tadi.

Semarang, jam 21:00. Soto ayam Bangkong masih buka. Ah… lezatnya soto dan ayam goreng rumah makan yg terkenal ini. Sebenarnya ada masakan yg lebih enak di Ungaran. “Lain kali aku ajak ke mbak Tun, dia jualan Iga gongso di pasar Babadan Ungaran. Bukanya cuma hari Legi & Kliwon” kata mas Edi. Jaman dulu mas Edi yg ngajarin mbak Tun bikin Iga gongso, sekarang mbak Tun sudah terkenal kemana-mana, sampai pak Gubernur bahkan Try Sutrisno juga nge-fans masakan khas itu. “Kalo aku makan disitu mbak Tun selalu nggak mau dibayar” lanjut mas Edi.

Mudah-mudahan suatu saat bisa menikmati Iga gongso.

Mengatasi munculnya “Contact Service” di hp Nokia

Suatu waktu mencoba men-charge Nokia 6610 lewat kabel data (non ori); awal-awal sih oke karena sudah bbrp kali nge-charge pakai kabel ini ndak ada masalah. Setelah berapa saat, tiba-tiba si Noki langsung nge-hang nggak mau dipakai lagi ditandai munculnya tulisan “Contact Service” di layar hp.

Karena masih garansi, hp langsung dibawa ke gerai nokia untuk minta dibetulkan. Sayangnya tempatnya cukup jauh dan banyak yg ngantre, terpaksa hp ditinggal untuk diambil beberapa hari kemudian. Setelah menanti sekian lama akhirnya hp selesai diservice walaupun semua data sms dan phonebook harus direlakan hilang.

Selidik punya selidik, ternyata penyakit ini sebenarnya bisa kita sembuhkan sendiri tanpa harus ke bengkel service. Tips ini dimuat di klinik troubleshooting tabloid Pulsa edisi 67 edisi November 2005.

“Contact Service” atau “Contact Retailer” memang sering menghinggapi pengguna Nokia seri 60, 40 dan DCT-3. Hal ini terjadi karena komponen penyimpan data memberikan informasi yg salah menyangkut pendistribusian tegangan.

Solusi Ketika kita menerima peringatan “Contact Service” atau “Contact Retailer” ketika baru menghidupkan ponsel, sebagai pertolongan pertama bisa dilakukan hard reset dengan menekan kode *7370# dari posisi standby.

Cara lain yg bisa ditempuh adalah memformat ulang (master clear) dengan menekan tombol-tombol berikut secara bersamaan ketika ponsel dalam keadaan tidak aktif (mati): Tombol ‘Call’, Tanda bintang, Tombol angka 3 dan tombol Power.

Secara teori jika salah satu dari kedua langkah diatas kita lakukan, handphone akan normal kembali. Tapi jika belum berhasil, terpaksa ponsel harus di-flash ulang (reflash) dan ini sebaiknya dilakukan oleh ahlinya.

Dalam kondisi step 1 & step 2 diatas tidak mempan juga, kayaknya tidak ada pilihan lain selain mengikuti pesan yg muncul dilayar (Contact service) … sepertinya anda memang harus menghubungi Nokia service center.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design