Apa sebenarnya antioksidan dan radikal bebas itu, bagaimana bekerjanya sehingga bisa merusak sel-sel tubuh dan apakah ada manfaatnya terhadap kesehatan kita? Hingga permulaan abad ke 20, tidak seorangpun mengetahui bahwa radikal bebas dapat berwujud dan bekerja secara bebas.
Para pakar kimia di abad ke 19 semula menggunakan istilah radikal bebas untuk suatu kelompok atom yang membentuk suatu molekul. Pada saat itu, para ilmuwan tidak percaya bahwa radikal bebas dapat berada dalam keadaan bebas.
Terjadi perubahan drastis pada abad ke 20 dari hasil kerja seorang rusia bernama Moses Gomberg yang lahir di Blisavetgrad pada tahun 1866. Sebagai hasil dari penelitian Gomberg dan ilmuwan lain pada tahun-tahun pertama abad ke 20 istilah radikal bebas kemudian diartikan sebagai molekul yang relatif tidak stabil yang mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan di orbit luarnya. Jika radikal bebas sudah terbentuk, maka di dalam tubuh akan terjadi reaksi berantai. Ini pada akhirnya akan menghasilkan radikal bebas baru sehingga jumlahnya terus bertambah dan menyerang sel-sel tubuh. Akibat serangan itu, sel-sel tubuh mengalami kerusakan, dan ini bisa menimbulkan penyakit.
Sebenarnya radikal bebas ini penting artinya bagi kesehatan dan fungsi tubuh jika jumlahnya tidak berlebihan atau dalam keadaan seimbang. Saat tubuh kita dipenuhi radikal bebas yang berlebihan maka molekul yang tidak stabil yang berada didalam tubuh kita berubah bentuk menjadi molekul pemangsa. Mereka mulai bergerak liar dan menyerang bagian tubuh yang sehat maupun yang tidak sehat sehingga terjadi penyakit.
Berbagai penyakit yang telah diteliti dan diduga kuat berkaitan dengan aktivitas radikal bebas. Penyakit-penyakit tersebut mencakup lebih dari 50 kelainan seperti Stroke, Asma, Pankreatitis, Berbagai penyakit radang usus, Penyumbatan kronis pembuluh darah di jantung, Penyakit parkinson, Sel Sickle Leukemia, Artritis rematoid, Perdarahan otak & tekanan darah tinggi, bahkan AIDS.
Untuk memperbaiki keadaan ini tubuh kita membentuk pembasmi radikal bebas yang dikenal sebagai antioksidan endogen. Antioksidan endogen ini akan menetralisir radikal bebas yang berlebihan itu sehingga tidak merusak tubuh. Antioksidan endogen ini dikemukakan oleh ilmuwan Amerika pada tahun1968 oleh J.M. Mc Cord dan I. Fridovich yang menemukan enzim antioksidan alami dalam tubuh manusia yaitu Superoksid dismutase yang saat ini disingkat SOD.
Sedangkan antioksidan yang kita makan dari luar melalui makanan atau melalui food suplemen untuk membantu tubuh melawan kelebihan radikal bebas, kita sebut antioksidan eksogen yg mencakup beta karoten, vitamin C, vitamin E, zinc (Zn), dan selenium (Se).
Selenium (Se) misalnya, bisa didapatkan dalam udang, tuna, lobster, telur, ayam, bawang putih, biji gandum, jagung, beras merah, nasi putih, dan sereal.
Sementara vitamin E banyak terkandung dalam minyak nabati terutama minyak kecambah, minyak bunga matahari, margarin, gandum, kacang-kacangan, biji-bijian, telur, susu, apel, pisang, asparagus, bayam, kacang polong, dan sayuran hijau lainnya. Kebutuhan vitamin E paling tidak 15 mg/hari. Namun untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler diperlukan asupan 30 mg/hari.
Untuk beta karoten, Anda bisa mendapatkannya dari wortel, brokoli, kentang, dan tomat. Berapa banyak beta karoten yang dibutuhkan oleh tubuh? Berdasarkan National Health Interview Survey (1992), rata-rata asupan beta karoten bagi laki-laki 2,9 mg/hari, sedangkan untuk wanita rata-rata 2,5 mg/hari. Untuk menurunkan risiko penyakit kronis, diperlukan 3-6 mg/hari.
Kebutuhan vitamin C sebesar 75 mg/hari untuk perempuan, dan 90 mg/hari untuk laki-laki. Kebutuhan ini ditambah 35 mg/hari bagi perokok. Lain lagi untuk penderita diabetes (kencing manis). Mereka, yang tidak merokok, perlu mengonsumsi vitamin C sebanyak 200 mg/hari. Sementara penderita kencing manis yang merokok disarankan mengonsumsi vitamin C sebanyak 250 mg/hari. Mengapa begitu? Ini karena mereka kehilangan vitamin C melalui urine lebih besar dibanding penderita kencing manis yang tidak merokok. Tak cuma produk suplemen, vitamin C bisa Anda peroleh dari sumber-sumber alami yaitu aneka buah-buahan seperti jambu biji, stroberi, pepaya, brokoli, jeruk, mangga, bayam, daun singkong, dan tomat.
Akan halnya zinc, kebutuhan pada pria adalah 11 mg/hari, dan pada wanita 8 mg/hari. Zinc sebagai antioksidan berperan dalam struktur dan fungsi enzim di dalam tubuh. Enzim superoksida dismutase yang merupakan antioksidan endogen dapat melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Bahan makanan yang kaya akan zinc adalah kepiting, hati sapi, daging sapi, sereal, lobster, ayam, kadang, susu, dan telur.
Sayangnya sistem perlindungan dari dalam maupun dari luar tubuh sering tidak memadai karena terlalu banyaknya radikal bebas yang terbentuk seperti polusi udara, asap rokok, sinar ultra violet yang diproduksi sinar matahari, pestisida dan pencemaran lain di dalam makanan kita, bahkan karena olah raga yang berlebihan.
Tampaknya kemanapun kita bergerak berbagai senyawa dan keadaan tertentu senantiasa membayangi kita dengan berbagai radikal bebas akibat ulah kita sendiri.
Ada 4 langkah yang dapat dilakukan menurut Dr. Kenneth H. Cooper yang menjadi pencetus Preventive medicine untuk melawan radikal bebas yang berbahaya dalam tubuh kita yaitu :
Berolah raga dengan intensitas rendah
Mengkombinasi beberapa antioksidan setiap hari
Mengatur diet dan memasak secara benar agar antioksidan dalam makanan tidak rusak
Bergaya hidup bebas dari radikal bebas
(Dikutip dari artikel Dr. Albert GO Sumampouw, dan berbagai sumber)